Selamat datang di blog kami. Kami kelompok yang didominasi para ibu rumah tangga yang berkeinginan untuk maju dan berkarya, blog ini adalah tempat kami untuk menunjukkan pada dunia bahwa kami ada, kami eksis dalam bisnis dan kami ingin terus melangkah ke depan. Demi mencetak generasi penerus yang tangguh, mandiri dan terus berkembang hingga mampu bersaing positif dalam skala Nasional dan dunia Internasional.

Kontak dan Informasi

Untuk informasi hub. kami di KH. Khamdani no. 14 RT.01, RW. 01 Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran – Sidoarjo. Telp. 08123500763

Sabtu, 28 Mei 2011

Jawa Timur Memulai Gerakan Kebangkitan Ekonomi Indonesia


1500 lebih massa  dari berbagai kalangan berkumpul di gedung Jatim Expo,  Surabaya,  Sabtu pagi.  Massa  yang berasal dari berbagai kota di Jawa Timur ini  sebagian besarnya  adalah pengusaha dan mahasiswa.  Mereka berkumpul di Jatim Expo untuk menghadiri Kajian Akbar Kebangkitan Ekonomi Indonesia, yang digelar oleh IIBF Jawa Timur.  “Ini adalah langkah awal untuk memulai  membangkitkan   karakter  masyarakat  Indonesia untuk membela bangsa sendiri.  Karena saat ini kita tidak menyadari bahwa kehidupan kita dikuasai oleh orang lain,”  kata Misbahul Huda, pada pembukaan acara. Misbahul Huda adalah Dirut PT. Temprina, Jawa Pos Group yang juga  Dewan Pembina IIBF Jawa Timur.

Selasa, 24 Mei 2011

Bangkit Ekonomiku Bangkit Indonesiaku

Dahlan Iskan saat acara KAKEI
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Dalam acara "Kajian Akbar Kebangkitan Ekonomi Indonesia" yang digelar di Jatim Expo Surabaya ini KIM Melati bisa turut serta berpartisipasi menempati stan no. 8. Kebangkitan Ekonomi bagi kami adalah memajukan produk lokal dalam arti kita bisa menjual produk lokal, tidak membeli produk asing dan memberdayakan masyarakat lokal. Kita tdk perlu bangga dengan produk asing. Dan perlu juga di waspadai, selama ini kita sering tau bahwa begitu banyak produk-produk lokal, dibuat di Indonesia, dibuat oleh sdm Indonesia dan menggunakan bahan baku yang ada di Indonesia tetapi telah dijual ke pihak asing. Tak sadar kita akan bentuk penjajahan lain dari bangsa asing terhadap perekonomian kita. Sementara pemerintah begitu memudahkan proses barang import, tetapi begitu sulit proses export produk lokal. Seberapa besar proses import tidak sebesar proses export. Artinya begitu mudahnya Indonesia memasukkan produk asing, sementara produk lokal kita sulit untuk keluar. Yang ada kita terus-terusan dijejali oleh produk asing yang secara harga jauh lebih murah.
Acara yang dihadiri oleh sekitar 1500 peserta ini disambut dengan semangat. Pembicara dalam acara ini adalah KH. Dahlan Iskan, Heppy Trenggono (president IIBF), M. Nuzli(pengusaha sukses tanah abang) dan KH. Saadih ( ulama dari banten)
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Kamis, 19 Mei 2011

Ayo kita dukung gerakan BELI INDONESIA

Banyak pertanyaan yang muncul dengan gerakan Beli Indonesia yang digagas oleh Presiden IIBF, Ir. H.Heppy Trenggono, MKomp pada akhir Februari 2011 lalu . Beli Indonesia, adalah sebuah thema untuk membangun karakter bangsa ini. Karena di dalam gerakan itu terdapat 3 sikap perjuangan, yakni Pertama. Membeli Produk Indonesia. Membeli produk bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah tetapi karena milik bangsa sendiri. Kedua, Membela Indonesia. Membela martabat bangsa, membela kejayaan bangsa. Ketiga, Menghidupkan semangat persaudaraan. Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku dan kita ada untuk saling tolong menolong. “Dalam Beli Indonesia itu kita membangkitkan semangat pembelaan terhadap bangsa sendiri. Membela  adalah kata yang mulai jarang kita dengar hari ini. Dan dengan Beli Indonesia kita membangkitkan kembali serta mempertegas tentang apa yang kita bela,” ungkap Heppy.  Membeli produk Indonesia berarti kita membela bangsa sendiri, membela saudara sendiri yang membuat produk itu. Bayangkan ketika kita berada dalam posisi sebagai pemilik produk dan dibeli oleh tetangga di sekitar rumah kita. Pasti kita akan sangat senang. Tetapi tahukan kita bagaimana perasaan para petani jeruk kita di Pontianak dan Brastagi ketika mereka melihat kita lebih memilih jeruk impor dari jeruk yang mereka tanam. Bagaimana mereka akan menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara hasil pertanian mereka tidak ada yang laku di pasaran? Dan ini semua karena kita tidak membela mereka dengan membeli apa yang mereka buat atau hasilkan.
 
Keputusan kecil untuk membeli sebuah produk sesungguhnya memiliki impilkasi yang sangat panjang. Mulai dari pabrik yang membuat produk itu; Bagaimana mereka memilih karyawan, penunjukkan supplier, pendistribusian penghasilan, penyimpanan uangnya;  di bank  Indonesia atau bank asing, dan lain-lain.  Maka dengan membeli produk Indonesia berarti kita membela kejayaan bangsa sendiri. Karena dengan membeli produk bangsa sendiri sesugguhnya kita telah memberi kesempatan anak bangsa sendiri untuk tumbuh dan berkembang. Jika industri  tumbuh maka lapangan kerja akan banyak tersedia. “Maka tidak perlu ada lagi anak-anak bangsa ini pergi ke luar negeri mencari penghidupan di negeri orang karena tidak adanya penghidupan di negeri sendiri,” jelas Heppy. Dan dengan membeli produk anak negeri sendiri bermakna juga kita telah menghidupkan persaudaraan, karena kita telah membela  apa yang mereka miliki.
 
Karakter itu bisa terbentuk jika kita bisa menjawab tiga pertanyaan. 1. Siapa jati diri kita 2. Apa yang kita Bela dan 3. Apa yang kita yakini.  Beli Indonesia bisa menjawab tiga pertanyaan itu. Membeli produk Indonesia karena kita tahu jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Membeli Indonesia karena kita telah memiliki clarity  tentang apa yang harus kita bela. Dan dengan Membeli Indonesia kita memahami bahwa  mencintai Indonesia  adalah nilai yang kita yakini.
 

 

Senin, 09 Mei 2011

Lomba LCCK di Sumenep

Lomba Cerdik Cermat Komunikatif telah lewat, Meski hanya menyandang Juara Harapan, semangat kami tak akan pudar. Kami akan terus berkarya, berinovasi dan terus maju. Kalah menang dalam pertandingan adalah hal yang wajar. Usia KIM Melati memang baru seumur jagung, tapi kami cukup bangga bisa berada dalam kancah perlombaan ini. Ini adalah pengalaman kami yang pertama, sudah pertama kali, saat jadi peserta kami harus pula duduk di barisan paling depan, hingga setiap akan kami materi yang dilombakan kami menjadi yang pertama. Pengalaman yang berharga ini akan kami jadikan sebagai pemacu semangat kami dalam berkarya. Toh kita semua akan bertemu kembali di Tulungagung bulan Juli mendatang. Kami akan siapkan karya terbaik KIM Melati.
Kembali ke kota Sidoarjo kami mulai kembali aktifitas bisnis kami, bisnis yang sempat kami tinggal beberapa saat demi konsentrasi dalam persiapan dan perlombaan KIM Melati.

Kamis, 05 Mei 2011

Pemerintah Arahkan KUR ke Sektor Hulu

Pemerintah terus mengarahkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor-sektor produktif di hulu, seperti sektor pertanian, perikanan dan industri merupakan tulang punggung perekonomian nasional, yang selama ini masih menerima alokasi kredit relatif kecil.

Hal itu diungkapkan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Syariefuddin Hasan usai membuka "Temu Usahawan dan Seminar Nasional Pemberdayaan Wirausahawan Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah melalui Kredit Usaha Rakyat" di Ternate, Maluku Utara, Sabtu sore.

Hadir dalam acara tersebut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ardhayadi Mitroatmodjo, Gubernur Maluku Utara Thaib Armain, Wali Kota Ternate H Burhan Abdurahman, para pimpinan Kantor BI Sulampua (Sulawesi, Maluku dan Papua) dan Balnustra (Bali Nusa Tenggara) serta para pimpinan perbankan di Maluku Utara.

"Selama ini KUR lebih banyak terserap oleh sektor perdagangan yang merupakan bagian hilir dari struktur perekonomian, sehingga penyerapan tenaga kerja dan multiplier effect dari KUR kurang optimal," katanya.

Oleh karena itu. ia mengemukakan, penyaluran KUR perlu didorong ke sektor produktif di hulu seperti pertanian dan perikanan, tambahnya.

Dalam penyaluran KUR selama tahun lalu tampak masih didominasi sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan alokasi mencapai 63,7 persen, sementara sektor pertanian dan perikanan hanya merndapat alokasi 17,1 persen dari total KUR yang disalurkan Rp17,2 triliun.

"Pada dasarnya pemerintah tidak bisa membatasi sektor-sektor mana yang pembiayaannya akan dikurang atau ditingkatkan, hanya pada kenyataannya kita melihat sektor hulu masih kurang sehingga perlu ditingkatkan," jelasnya.

Sementara dalam acara temu usahawan, Syariefuddin Hasan menyatakan, pemerintah juga akan mendorong KUR dapat dimanfaatkan oleh wirausahawan pemula. Hal ini untuk menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat guna berwirausaha.

Ia mengatakan, selama ini perbankan hanya menyalurkan KUR kepada wirausahawan yang "bankable" yang bisnisnya telah berjalan dan dinilai visible. "Hal ini membuat wirausahawan baru sulit untuk berkembang," ujarnya.

Salah satu upaya yang telah dilakukan, kata dia, yakni perubahan kebijakan tentang besaran kredit tanpa agunan yang sebelumnya Rp5 juta menjadi Rp20 juta per debitur.

Peningkatan besaran pinjaman ini didasarkan atas keterbatasan debitur kredit mikro ini yang kurang leluasa dalam merencanakan keuangannya.

Dia juga berharap, bank sentral bisa menjaga suku bunga acuan (BI rate) yang saat ini 6,75 persen tetap bisa digiring ke tingkat yang relatif rendah agar suku bunga kredit bank juga rendah, sehingga dengan demikian penyaluran KUR akan semakin baik.

Pemerintah sepanjang tahun ini menargetkan total penyaluran KUR hingga akhir 2011 sebesar Rp20 triliun. Sementara itu, realisasi penyaluran KUR tahun lalu tercatat sebesar Rp17,23 triliun.

Angka tersebut meningkat sebesar 11,9 persen dibanding target tahun lalu senilai Rp15,395 triliun.

Sementara KUR yang telah disalurkan enam bank BUMN dan 13 Bank Pembangunan Daerah pada penutupan kuartal pertama 2011sudah mencapai hampir Rp6,29 triliun. Jumlah tersebut mencapai 31,47 persen dari target awal pemerintah untuk menyalurkan Rp20 triliun.

Sementara Deputi Bank Indonesia(BI) Ardhayadi Mitroatmodjo menjelaskan bahwa peran UMKM di dalam meningkatkan kapasitas perekonomian Indonesia ternyata cukup besar.

Hal ini dapat dilihat dari kontribusi UMKM terhadap pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto) atas harga berlaku sejak 2005 yang secara rata-rata menyumbang sekitar 55 persen dari PDB.

Namun demikian, kata dia, sampai saat ini perkembangan UMKM masih belum banyak berubah secara signifikan. Salah satu kendala yang dihadapi UMKM adalah sulitnya akses ke sumber pembiayaan, karena perbankan masih belum banyak mengenal UMKM.

"Hal ini tampak dari sikap perbankan yang cenderung membiayai UMKM yang sama, karena sulit menemukan atau ragu melayani nasabah baru. Kondisi ini perlu diperbaiki, salah satunya dengan mendorong UMKM sedini mungkin berinteraksi dengan perbankan," ungkapnya.

Menurutnya, interaksi UMKM dengan perbankan seyogyanya dimulai dengan membuka rekening tabungan di bank. Keberadaan rekening tabungan ini bukan hanya sekedar tempat menabung, tapi juga berfungsi untuk memfasilitasi kegiatan operasional UMKM tersebut.

Pergerakan uang yang keluar dan masuk dari rekening tabungan akan membantu perbankan lebih mengenal karakter usaha UMKM dari sisi keuangannya.

Sementara bagi UMKM yang belum pernah meminjam kepada perbankan, ini sangat membantu ketika mereka memerlukan kredit dari perbankan, paparnya.

"Perbankan juga diharapkan lebih aktif menjaring UMKM agar mereka bersedia membuka rekening tabungan di bank. Dengan demikian perbankan dapat selalu memonitor potensi bisnis baru berupa pemberian pembiayaan kepada UMKM tersebut," jelasnya.

Ia mengungkapkan nilai plafon KUR secara nasional posisi Februarai 2011 mencapai Rp38,29 triliun.

Sedangkan secara sektoral, nilai plafon KUR pada sektor pertanian mencapai Rp3,32 triliun atau 17,07 persen dari plafon KUR secara nasional dan sektor perikanan mencapai Rp19,69 miliar atau 0,05 persen dari plafon secara nasional.
(T. A026/S019)
 
Sumber : Antara News

Sidoarjo Raih Lagi Penghargaan Pelayanan Masyarakat

Perijinan Bisa Diurus dengan Jangka Waktu dan Biaya Terukur
Pelayanan perijinan terpadu satu atap di Kabupaten Sidoarjo, nampaknya menarik perhatian dari Pemerintah Provinsi Jatim
Terbukti, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berhasil mendapatkan penghargaan di ajang Pameran Pelayanan Publik yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Taman Budaya Krida Malang, Kamis (8/4).

Bupati Win Hendrarso saat menerima pengharaan P2T SP dari Gubernur Jatim Soekarwo Sebagai Daerah Berprestasi Dibidang Pelayanan Umum

Pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk Pengembangan Usaha Mikro dan Kecil di Sidoarjo

Meski mengalami pertumbuhan yang pesat, penyaluran KUR masih menemui banyak kendala, terutama akibat belum adanya pemahaman yang seragam tentang skema KUR, baik oleh para petugas bank di lapangan, maupun oleh masyarakat. Misalnya, beragamnya persepsi tentang syarat angunan pada pengajuan KUR yaitu benar tanpa agunan atau masih dipersyaratkan agunan. Padahal jika dapat disalurkan sesuai rencana, hampir dipastikan KUR menjadi mesin penyerap tenaga kerja dengan daya sedot sangat kuat. Jika 49 juta UMKM dan koperasi dapat menjaring dua tenaga kerja saja, bisa dibayangkan jumlah tenaga kerja yang terserap. Karena itu untuk mempercepat akselerasi KUR dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan dibutuhkan sosialisasi secara berkelanjutan tentang persyaratan KUR kepada masyarakat luas. Mengutip Wangsa (2008), bahwa sosialisasi KUR harus disosialisasikan melalui berbagai media, baik cetak, elektronik, maupun media yang menggunakan kearifan lokal, seperti wayang, tonil, dan ketoprak. Selain sosialisasi, diperlukan pula pelatihan-pelatihan secara periodik oleh bank pelaksana. Sosialisasi dan pelatihan berkelanjutan akan menghasilkan pemahaman yang seragam terhadap program pembiayaan KUR, baik oleh petugas bank di lapangan maupun masyarakat.

Menekan Gizi Buruk dengan POSYANDU

Sejak dirintis tahun 1983, hingga saat ini Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) membawa manfaat penting bagi rakyat. Walau sempat "mati suri" di awal tahun 2000, namun kini pemerintah berusaha mengampanyekan posyandu sebagai ujung tombak deteksi dini kesehatan rakyat, khususnya anak-anak.

Di Ibu Kota, revitalisasi Posyandu dilakukan sejak awal tahun 2006. Sejak itu jumlah posyandu yang aktif terus meningkat. Saat ini terdapat 350.000 posyandu, meski yang berfungsi baru sekitar 40 persennya.

Namun, sejauh ini revitalisasi tampaknya masih menemui kendala menyangkut jumlah tenaga medis yang tersedia, fasilitas dan kualitas kader posyandu. Penelitian yang dilakukan Prof.Ali Khomsan, dari Institut Pertanian Bogor bekerja sama dengan Nestle Dancow Batita menemukan 80 persen ibu-ibu menganggap penyuluhan di posyandu lemah, baik dari sisi materi atau kualitas penyuluh.

Industri Meningkat saat ada Bencana LUSI

Pertumbuhan industri di Sidoarjo mengalami kenaikan meski terjadi bencana Lumpur Sidoarjo. Selama empat tahun ini, tercatat pertumbuhan industri di Sidoarjo naik cukup signifikan. Pada 2007 sebanyak 10.252 unit, 2008 tumbuh menjadi 14.079 unit usaha. Begitu juga pada pada 2009 dan 2010, naik masing-masing menjadi 15.838 dan 15.938 unit usaha.
Kasi Industri Logam, Mesin dan Tekstik Dinas Koperasi UMKM, Malasanti mengatakan, kenaikan tersebut terjadi dalam semua unit industri baik skala kecil, menengah dan besar. “Memang merata dari semua sektor usaha sepanjang empat tahun ini dan kenaikannya juga cukup signifikan,” ujarnya Minggu (13/2).
Kenaikan jumlah industri itu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Pada 2010 kenaikan jumlah industri tersebut menyerap sekitar 142.187 pekerja. “Mudah-mudahan perkembangan industri di Sidoarjo ke depan cukup positif sehingga akan lebih banyak menyerap tenaga kerja,” katanya.
Terpisah,  Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Maksum, mengatakan, sejauh ini para investor masih percaya kalau semburan lumpur Sidoarjo tidak menimbulkan dampak yang signifikan. Selain itu, wilayah yang terkena semburan lumpur Sidoarjo sendiri hanya 2% dari luas Sidoarjo secara keseluruhan. ”Kami juga melakukan program peningkatan kemampuan berteknologi industri, pengembangan sentra-sentra industri dan peningkatan kualitas SDM pada karyawan dan pelaku usahanya sekalian,” ucapnya.
Sebagai dukungan atas bangkitnya industri di Sidoarjo, Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Sidoarjo, Joko Santoso membuat program untuk peningkatan jumlah industri di Sidoarjo dengan memberikan kemudahan perizinan bagi para investor. Para investor yang akan menanamkan modal bisa mengurus izin secara paket mulai tahun ini seperti HO, IMB dan Izin Usaha.
Kemudahan itu diharapkan dapat menarik lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo.  “Mulai tahun ini sudah bisa dijalankan pengurusan izin secara paket,”ucapnya.
Perkembangan perindustrian di Sidoarjo sendiri diarahkan ke wilayah barat seperti Krian, Krembung, Taman, Banglongbendo, Tulangan dan Prambon. Sebab, di wilayah itu masih tersedia lahan industri yang cukup. Misalnya saja di Krian, lahan industrinya mencapai 783,7 hektare, Balongbendo 483 hektare, dan Taman masih tersedia 1083,5 hektare.m10

Industri di Sidoarjo
Tahun                          Jumlah Unit Usaha
2010                            15.938
2009                            15.838
2008                            14.079
2007                            10.252

Rabu, 04 Mei 2011

Usaha Krupuk Tempe dan Wortel

Siapa yang tidak mengenal krupuk, makanan ringan yang renyah dan kres  bila digigit. Biasanya makanan ringan ini terbuat dari bahan tepung tapioka saja yang dibumbui dengan bawang putih dan garam. Kemudian krupuk  bertambah varian dengan berbagai rasa seperti udang, ikan, lorjuk dan jenis ikan lainnya. Untuk menambah varian pilihan rasa, kini krupuk juga dibuat dari bahan sayuran seperti bayam, wortel dan kedelai. Inilah usaha yang kini dijalani oleh seorang ibu bernama Amluatul Maftuhah. Ibu tiga anak ini memulai usahanya sejak tahun 2007. Bersama dengan adiknya yang masih kuliah di UNAIR usaha ini dijalankan. Pemasaran dibantu oleh sang adik. Produknya selalu tampil dalam setiap acara pameran, bahkan sudah sampai dipamerkan di Australia oleh adiknya yang aktif dalam kegiatan UKM.
Krupuk Tempe setelah digoreng

Krupuk wortel dan krupuk tempe dalam kemasan mentah

Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah BOS

Penggunaan Dana BOS harus berpedoman pada panduan pelaksanaan program BOS yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat, yang antara lain mengatur tentang:
  1. kriteria kegiatan-kegiatan yang boleh dibiayai dana BOS; dan
  2. kegiatan-kegiatan yang tidak boleh dibiayai dari dana BOS.
Berdasarkan panduan tersebut Dana BOS boleh digunakan untuk :
  1. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka Penerimaan Siswa Baru : biaya pendaftaran, penggadaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung  dengan kegiatan tersebut.
  2. Pembelian buku teks pelajaran dan buku referensi untuk dikoleksi diperpustakaan.
  3. Pembelian bahan-bahan habis dipakai: buku tulis, kapur tulis, pensil, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran, gula kopi dan teh untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah.
  4. Pembiayaan kegiatan kesiswaan: program remedial, program pengayaan, olah raga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja dan sejenisnya.
  5. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa
  6. Pengembangan profesi guru: pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS.
  7. Pembiayaan perawatan sekolah: pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler dan perawatan lainnya.
  8. Pembiayaan langganan daya dan jasa: listrik, air, telepon, termasuk untuk pemasangan baru jika sudah ada jaringan disekitar sekolah.
  9. Pembayaran honorarium bulanan guru honorer dan tenaga kependidikan honorer sekolah. Tambahan insentif untuk kesejahteraan guru dan tega kependidikan sekolah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah.
  10. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya transport dari dan ke sekolah.
  11. Khusus untuk pesantren salafiyah dan sekolah keagamaan non Islam, dana BOS dapat digunakan untuk biaya asrama/pondokan dan membeli peralatan ibadah.
  12. Pembiayaan pengelolaan BOS: ATK, penggandaan, surat menyurat dan penyusunan laporan.
  13. Prioritas pertama penggunaan dana BOS adalah untuk komponen 1 s/d 12, bila seluruh komponen diatas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran dan mebeler sekolah.

Latar Belakang Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam jangka menengah dan jangka panjang. Namun, sampai dengan saat ini masih banyak orang miskin yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu, hal ini disebabkan antara lain karena mahalnya biaya pendidikan. Disisi lain, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yang dikenal dengan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Konsekuensi dari hal tersebut maka pemerintah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/Mts serta satuan pendidikan yang sederajat).
Kenaikan harga BBM beberapa tahun belakangan dikhawatirkan akan menurunkan kemampuan daya beli penduduk miskin. Hal tersebut dapat menghambat upaya penuntasan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, karena penduduk miskin akan semakin sulit memenuhi kebutuhan biaya pendidikan.

Gerakan tanam Cabe Seribu Pohon

Tanaman cabe yang sebentar lagi siap di panen
Melonjaknya harga cabe beberapa waktu lalu sempat membuat ibu-ibu rumah tangga kebakaran jenggot. Betapa tidak, makan tanpa sambel bagi ibu Lilik, sekretaris KIM Melati bagai sayur tanpa garam. Hampir setiap hari dia selalu menghidangkan sambal dalam meja makannya. Tingginya harga cabe menciptakan ide bagi KIM Melati untuk mengadakan program seribu pohon cabe. Pada bulan Desember 2010 lalu, gerakan ini digalakkan, dihimbau kepada seluruh masyarakat desa siwalanpanji untuk menanam cabe di halaman rumahnya minimal satu rumah satu pohon. Gerakan ini cukup disambut masyarakat setempat. Dan terbukti kini semua sudah bisa menuai hasilnya. Cabe tidak membutuhkan lahan yang besar. Hingga semua orang bisa melaksanakannya. Kini kebutuhan akan cabe tidak lagi mengganggu uang belanja harian mereka.
Untuk terus menggalakkan gerakan ini, KIM Melati menyarankan agar memperhatikan limbah cabe yang sudah tidak terpakai terutama bijinya supaya dikumpulkan untukdijadikan bibit yang bisa ditanam kembali.

Sidoarjo siapkan Mobil Pelayanan KTP

Mobil layanan KTP Dispenduk Capil
Mobil pelayanan KTP keliling yang dimiliki Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab Sidoarjo siap meluncur.  Unit ini akan stand by pada pusat-pusat keramaian kota. Seperti di Pasar Larangan, Mall Ramayana dan Sun City.
"Warga Sidoarjo bisa memperpanjang KTP  di unit ini, gratis dan langsung jadi,''  jelas Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Sidoarjo Sentot Kunmardianto SH, Minggu (1/5).
Warga yang ingin ngurus,  kata Sentot, syaratnya harus datang sendiri dan membawa KTP lama. Sementara itu, kalau untuk ngurus  KTP baru tetap harus dilakukan di kecamatan.
Adanya mobil pelayanan KTP ini, menurut Sentot, akan bisa membantu mendekatkan pelayanan kepada warga yang karena sibuk sehingga tak sempat datang ke kantor kecamatan.
Dalam uji coba yang akan mulai dilakukan pada awal Mei ini, rencananya akan dilakukan selepas jam kantor PNS atau sore hari agar bisa banyak menjaring warga yang akan mengurus KTP.  "Tetapi jumlah pelayanannya  mungkin  akan dibatasi sampai 200 orang atau melihat kemampuan yang ada,'' kata Sentot.
Selain akan melayani warga di pusat keramaian, unit ini juga bisa membantu pelayanan KTP di kecamatan bila sampai terjadi penumpukan permohonan.  Tetapi diperkirakan oleh Sentot hal itu tidak sampai terjadi, sebab saat ini pelayanan KTP di kecamatan cukup lancar.
Unit yang dimiliki oleh Dispendukcapil Sidoarjo ini cukup canggih dan mobile. Sebab pencetakan KTP bisa dilakukan sampai luar kota, asal di tempat itu ada koneksi GSM. (Kahumas-DPRD Sidoarjo)

JAMKRIDA MEMPERMUDAH AKSES MODAL BAGI UMKMK

Dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi para UMKMK kesulitan teratas adalah mengakses sumber permodalan baik dari lembaga keuangan perbankan maupun non perbankan. Tetapi dengan adanya JAMKRIDA, akses sumber permodalan tersebut dapat diperoleh dengan lebih mudah.
Demikian disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat meresmikan BUMD Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD) PR. JAMKRIDA Jawa Timur, di ruang Serba Guna Lt V Bank Jatim, Jln. Basuki Rachmad, Surabaya (16/01).
Pakde Karwo sapaan akrab Soekarwo menuturkan, usaha mikro kecil menengah (UMKM) sebagai salah satu pelaku ekonomi terbukti mempunyai peran yang besar terhadap perekonomian Jawa Timur. Selama ini keberadaanya mampu menjadi penopang perekonomian daerah yang banyak menyerap tenaga kerja serta mampu menghidupi rakyat, meskipun nilainya masih lebih kecil dibanding industri skala besar namun mampu menciptakan stabilitas ekonomi masyarakat. “Untuk itu diperlukan pemberdayaan UMKM agar mampu menggerakan roda perekonomian di desa dan kota,” ungkapnya

Arif Menyikapi Bencana

Beberapa tahun terakhir ini tampaknya bangsa Indonesia tak henti-hentinya dirundung bencana. Dari banjir bandang, gempa bumi, tanah longsor, hingga semburan lumpur panas. Kesemua bencana tersebut selalu memakan korban jiwa, dan menyisakan isak tangis serta ratapan pilu keluarga korban yang ditinggalkan.
Ironisnya, di tengah maraknya bencana yang melanda bangsa ini, alih-alih melakukan langkah antisipatif dan preventif agar tidak terjadi lagi bencana serupa di kemudian hari, atau melakukan tindakan ‘cepat tanggap’ untuk menyelamatkan para korban, masyarakat dan pemerintah justru saling tuding dan menyalahkan satu sama lain.
Hemat penulis, sikap saling tuding dan menyalahkan antara masyarakat dan pemerintah, bukanlah suatu tindakan bijak, dan bukan pula jawaban atas pelbagai bencana yang menimpa negeri ini. Kenyataan ini justru menambah masalah baru yang jika dibiarkan berlarut-larut akan menjadi preseden buruk, bahkan akan semakin menghempaskan bangsa ini ke jurang keterpurukan.

Lumpur Porong Belum Mampet, Diseminarkan ITS

Semburan lumpur Sidoarjo yang telah memasuki tahun ke empat belum memperlihatkan tanda-tanda bakal berhenti. Telah banyak cara dan usaha yang dilakukan untuk menghentikan semburan lumpurnya, namun semuanya tak ada hasil.
Fenomena luapan Lumpur tersebut merupakan fenomena geologis yang masih ramai diperbincangkan oleh para pakar mengenai penyebabnya dan juga upaya untuk penghentiannya.
ITS yang merencanakan akan membuka fakultas baru mengenai kebumian telah sejak awal ikut menyumbangkan upaya penelitian untuk penghentiannya. Dan hari ini, Senin (30/11) ITS mengadakan Seminar 4 Tahun Lumpur Sidoarjo, dilihat dari perspektif teknologi dan ilmu kebumian.
Dalam seminar tersebut hadir Drs MR Karliansyah MS, Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup, Dr Sofyan Hadi dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), dan Dr Andang Bachtiar, Ketua Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).

Peringatan Hari Kartini

Desa Siwalanpanji turut memeriahkan acara peringatan Hari Kartini. Dalam pelaksanaannya, diadakan beberapa lomba seperti fashion show, membuat kue dan menyulam. Acara yang digelar di Balai Desa Siwalanpanji ini cukup meriah. Diikuti oleh sekitar 50 warga yang sebagian tergabung dalam KIM Melati. 
Hari Kartini ini kita maknai sebagai kebangkitan wanita dalam berkiprah di masyarakat. Wanita bisa membuktikan bahwa potensi sumber daya manusia tidak hanya dari kaum pria saja, wanita kini sanggup untuk menunjukkan potensinya.
Penerimaan Hadiah

Hasil sulaman

Beberapa sajian kue yang dilombakan

Peserta lomba Fashion show

Peserta Peringatan hari Kartini

Anggota KIM Melati





Lomba Wanita Wirausaha Memilih 9 Pemenang

KOMPAS.com - Lomba Wanita Wirausaha BNI-Femina 2010 segera mengumumkan sembilan pemenang dari tiga kategori pada puncak acara yang dinamakan Power Lunch, Jumat (25/3/2011) nanti.
Mengambil tema "Jatuh Bangun Wanita Pebisnis", puncak rangkaian kegiatan komunitas wanita wirausaha majalah Femina ini akan mempertemukan ratusan pebisnis perempuan dalam diskusi panel. Sekitar 250 wanita wirausaha akan diundang untuk berjejaring sekaligus menggali inspirasi dari panelis ternama. Pengusaha kosmetik Martha Tilaar, pengusaha fashion Anne Avantie, pengusaha kebun jati Santi Mia Sipan, dan Loemongga Haoemasan, pengusaha properti, akan berbagi proses mengenai jatuh bangun mendirikan bisnis yang kini meraih sukses.
"Rangkaian program wirausaha ini mencoba menjangkau sebanyak mungkin wanita wirausaha. Program ini berhasil menjangkau lebih dari 7.000 wanita wirausaha. Bahkan tujuh persen dari 7.000 wanita wirausaha ini sudah mengekspor produknya terutama mereka yang berasal dari Bali dan Yogyakarta. Sementara wanita wirausaha yang terjangkau melalui lomba kebanyakan pebisnis kelas menengah (0-Rp 500 juta), bukan skala mikro yang berbisnis untuk bisa bertahan hidup, ataupun skala menengah atas yang bisnisnya lebih dari satu milyar," kata Svida Alisjahbana, CEO Femina Group, saat temu media di gedung Femina, Jakarta, Selasa (22/3/2011) lalu.
Rangkaian program wirausaha Femina berjalan di 12 kota pada 2010 lalu. Kegiatannya meliputi workshop, seminar yang diikuti 200-300 wanita wirausaha per sesinya, lomba wanita wirausaha yang diikuti 387 peserta, kerjasama dengan berbagai instansi seperti Inacraft dan Ernst & Young, selain tentunya menghubungkan wanita wirausaha di berbagai kota melalui komunitas online dan jejaring sosial.
Sebagai acara puncak, Power Lunch digelar setiap tahun untuk memfasilitasi perempuan dalam membangun jejaring agar bisa mengembangkan usahanya. Program tak berakhir sampai di situ, karena pada Mei 2011 akan digelar bazar dan pameran. "Setiap kegiatan dirancang untuk membesarkan, memperkuat jaringan dan komunitas wanita wirausaha Indonesia," jelas Petty S Fatimah, Pemimpin Redaksi Majalah Femina.
Salah satu bentuk penguatan wanita wirausaha ini adalah penghargaan dan pengakuan atas prestasi bisnis dan kegigihan perempuan dalam berwirausaha. Lomba Wanita Wirausaha 2010 akan memilih tiga pemenang utama, tiga pemenang penghargaan, dan tiga pemenang kategori khusus seperti green entrepreneur, social entrepreneur, dan pemanfaat potensi lokal. Tak hanya itu, Femina juga bekerjasama dengan Inacraft untuk mencari 25 pemenang Femina Award Inacraft, untuk kemudian dipresentasikan dalam majalah. Sebagai kelanjutan program, Femina juga berkolaborasi dalam ajang Ernst & Young Entrepreneural Winning Program 2010.
"Ajang EY ini menyasar wanita wirausaha menengah atas. Kolaborasi yang dilakukan adalah mencari nominasi dari komunitas wanita wirausaha Femina untuk dinominasikan ke EY," jelas Petty.
Lengkap sudah program wirausaha mendorong wanita untuk memperkuat jejaring bisnisnya. Penghargaan menjadi salah satu ukuran pencapaian bagi wanita wirausaha yang terjaring oleh Femina dan BNI, pembuktian atas orisinalitas produknya, kekuatan pemasaran, kapasitas produksi yang bisa dipertanggungjawabkan, sejauhmana potensi dan pengembangan usahanya, tanpa mengabaikan kepedulian sosial dan lingkungan dalam berbisnis.

Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini

Tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jikajiwa wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa.

Ramalan beberapa ahli tentang gambaran masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha padatiap individu tak dapat disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negaramenuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak agar mempunyaijiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya.

Peran orangtua dan guruWirausaha merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyakkreativitas. Rasa tanggung jawab dan kreativitas dapat ditumbuhkan sedini mungkin sejak anak mulaiberinteraksi dengan orang dewasa. Orangtua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini.Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawabatas apa yang dia lakukan.

Selain itu, peran lingkungan, semisal guru-guru, juga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak. Merekabisa berperan dalam membuat anak agar bisa menjadi seorang enterpreneur. Untuk itu, guru harus kreatifmengajar dan membuat soal. รข€oeBerikan kesempatan untuk berpikir alternatif.

Misalnya, jangan bertanya 5X5 berapa. Tapi, tanyalah berapa kali berapa saja sama dengan 25,• kata Zainun muntadin, S.Psi, M.Psi, Dosen Psikologi UPI YAI.Dengan kreativitas orangtua dan guru, anak dilatih memiliki beberapa alternatif jawaban dan solusi. Alternatiftersebut akan melatih anak mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada.

Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, danselalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, menurut Zainun, hal-hal tersebutdi sekolah kurang mendapat perhatian. Kebanyakan sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasanintelegensi saja.

Sementara kreativitas masih kurang dikembangkan. Padahal pengembangan kreativitas akan membuat anak mampu menciptakan hal-hal baru. Kreativitas inilahmodal dasar untuk menjadi enterpreuner. Modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Sisi positifl ain dari pengembangan sikap ini adalah terbangunnya rasa tanggung jawab pada semua hal yang dilakukan.
Menurut Zainun, bila banyak orang di Indonesia memiliki jiwa enterpreunership, maka jumlah koruptor jugaakan sedikit. Bila kelak anak tersebut dewasa dan mengambil kredit di bank, ia akan bertanggungjawabmengembalikan dan tidak akan kabur,• kata psikolog yang menamatkan studinya di UI ini.

Latihan bertahapMenumbuhan sifat wirausaha pada diri anak memerlukan latihan bertahap. Latihan wirausaha ini bukanlahsesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Misalnya, toilettraining untuk melatih anak yang masih ngompol. Tujuan akhirnya sampai anak mampu membuang kotoran ditempatnya, membersihkan kotorannya, dan memakai kembali celananya. Latihan itu dilakukan secara bertahapdan mengajarkan anak untuk bertanggungjawab.

Latihan lain, misalnya melatih anak untuk dapat membereskan mainan selesai bermain dan meletakkan mainandi tempatnya. Hal ini juga merupakan latihan untuk bertanggungjawab dan awal pengajaran tentangkepemilikan. Ini mainan saya diletakkan di sini. Ini mainan kakak, kalau mau pinjam, harus ijin dulu. Sifattersebut, menurut Zainun, adalah awal untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak.

Latihan selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk membiayai rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uangtersebut, orangtua harus bekerja keras. Uang hanya boleh dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar perlu.Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif.

Dalam mengajarkan anak mengelola uang, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan,namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtuaterhadap aturan. Misalnya, saat mengajak anak berbelanja. Catat terlebih dahulu kebutuhan yang akan dibeli.Orangtua harus konsisten untuk tidak belanja di luar catatan belanja. Bila anak mengamuk meminta mainanatau barang kebutuhan lain di luar catatan, maka orangtua harus konsisten untuk membelikannya. Aturan ituharus sudah disepakati sejak awal.

Latihan seperti ini sudah dapat dilakukan sejak anak berusia dua tahun. Jangan anggap anak tidak mengerti apaapadengan mengatakan Ah, masih anak kecil Padahal sejak kecil pun anak sudah mampu berkomunikasi,tutur ayah satu orang putra ini.

Bisnis kecil-kecilanSetelah anak diajarkan mengelola uang, tahap selanjutnya si anak mulai dapat diajarkan berbisnis kecil-kecilan.Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat diajarkan jual beli. Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal usaha untuk mendapatkan sesuatu, dengan kata lain bisnis kecilkecilan.

Misalnya, anak bisa diajarkan menjual barang hasil karyanya, saperti es mambo, kue, dan lain-lain. Ini tidakdisarankan untuk dilatihkan, tapi sebenarnya bisa,• ujar Zainun. Syaratnya, tahapan ini bisa dijalankan bilaorangtua sudah mengajarkan cara mengelola uang terlebih dahulu. Sehingga anak sudah terbiasa untukmenabung dan mengatur uangnya dengan baik. Dengan demikian uang yang mereka dapat tak segeradihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu.

Cara yang dipakai oleh David Owen, seorang penulis buku di Amerika Serikat, agaknya layak ditiru. Owenmengisahkan tentang bagaimana ia mampu mendorong anak-anaknya menjadi gemar menabung dan penuhperhitungan dalam membelanjakan uang. Ia membuat Bank Ayah, khusus untuk anak-anaknya. Prinsip yangdikembangkan dalam "Bank Ayah" adalah pemberian tanggungjawab dan kontrol keuangan secara penuh padaanak sebagai pengelola uang mereka sendiri. Uang anak adalah milik anak, bukan milik orang tua. Bahkananak juga bebas mencari pendapatan di luar jatah uang saku yang telah mereka dapatkan.

Dalam hal ini "Bank Ayah" berperan dalam melakukan kontrol secara tidak langsung, yaitu denganmengembangkan prinsip-prinsip perbankan seperti bonus yang dapat menarik minat akan untuk menambahsaldo tabungan, juga saldo minimal, yang dapat membatasi jumlah pengambilan uang agar tidak terkuras habis.Dengan ini anak akan benar-benar bertanggungjawab dan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

"Bank Ayah" ala David Owen ini tidak cuma menjadi daya tarik anak untuk menabung. Lebih dari itu "BankAyah" dikelola sebagai sarana pembelajaran dari praktik ekonomi kepada anak dengan bahasa yang sederhana.Dengan sedikit improvisasi, Owen mengubah "Bank Ayah" ini menjadi media latihan berinvestasi pada anakanaknya.Owen sendiri berhasil mendirikan sebuah perusahaan pialang saham yang bernama "Dad and •.

Jadi sejak dini jiwa wirausaha baik untuk ditanamkan. Inti dari kewirausahaan adalah bagaimana menanamkancara untuk berusaha, memecahkan permasalahan dan bertanggung jawab penuh atas apa yang dia lakukan.Sangat positif, bukan?

Dinkes Sidoarjo Optimalkan Jumantik

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mengoptimalkan petugas juru pemantau jentik (jumantik) saat terjadi anomali cuaca seperti yang terjadi pada pergantian musim seperti sekarang ini.Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Sidoarjo dr Ika Harnasti, Jumat mengatakan, anomali cuaca pada pergantian musim seperti tahun ini akan berdampak pada munculnya berbagai penyakit."Oleh karena itu, peran dari jumantik ini perlu disiagakan mengingat pergantian musim ini cenderung menyebabkan berbagai jenis penyakit seperti deman berdarah dan jusa infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA," katanya.Ia mengemukakan, saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo terus mendorong masyarakat unutk melakukan upaya sosialisasi hidup bersih dan Sehat. Salah satunya, dengan terus mengaktfkan tim pemberantasan sarang nyamuk, mulai tingkat desa, hingga tingkat Kabupaten.

"Tim jumantik yang ada di tingkat desa ini memiliki tugas utama untuk melakukan pemantauan sarang nyamuk yang ada di rumah masyarakat," katanya. Apalagi, kata dia, penyakit demam berdarah yang masih terjadi di Sidoarjo yang disebabkan oleh virus nyamuk yang kerap bersarang di tempat genangan air yang terbilang jernih. “Saat ini masih ada sekitar satu hingga lima orang jumantik per desa untuk melakukan pemantauan jentik nyamuk terutama pada pergantian musim seperti saat ini," katanya. Menurutnya, jumlah jumantik ini masih kurang dibandingkan dengan luasan wilayah yang harus ditangani oleh jumantik. "Dari Jumantik ini, target yang mesti didapatkan dalam setiap pantauan desa, minimal angka bebas jentik adalah 95 persen dari lokasi yang dipantau," katanya. Sementara itu, saat ini banyak masyarakat yang masih menganggap fogging (pengasapan) mampu mengatasi demam berdarah tanpa melaksanakan program 3 M yakni menguras, mengubur dan menutup tempat penampungan air. Padahal sistem Fogging atau pengasapan itu, kata dia, hanya mematikan nyamuk dewasa sedangkan jentik dan telur tetap ada. “Cara paling aman selain fogging, adalah dengan 3 M atau dengan melihara ikan di kolam dan menanam bunga lavenda di sekitar rumah masing - masing,” katanya. Ia juga mengimbau kepada warga masyarakat supaya melakukan hidup bersih mengingat peredaran nyamuk demam berdarah saat ini cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. "Oleh karena itu, diharapkan pada setiap desa untuk melakukan bersih desa atau kerja bhakti minimal setiap pekan untuk mengurangi peredaran nyamuk demam berdarah," katanya.(bhirawa)

95 Kelurahan; Bergumul Dengan Pelatihan

Usaha mendorong kemandirian dan kemitraan masyarakat bersama Pemerintah Daerah dalam menanggulangi kemiskinan di perkotaan telah dilakukan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP). Karena itu dalam upaya mengedepankan peran Pemerintah Daerah pada pelaksanaan PNPM-MP diperlukan dukungan dan kerjasama dari semua pihak yang terlibat dalam penyusunan rencana kerja dan program, dan ini adalah salah satu implikasi dari perubahan paradigma dan kepedulian semua pihak untuk pencapaian target dan sasaran yang akan dicapai, ujar Bang Jay.
Lebih lanjut Komandan Distrik Management Keuangan wilayah Sidoarjo menjelaskan PNPM-MP berupaya menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya membangun organisasi masyarakat warga. Organisasi masyarakat yang dimaksud adalah organisasi dan lembaga yang dibangun (ataupun dimampukan) oleh masyarakat yang didorong oleh kebutuhan untuk menanggulangi persoalan bersama yaitu kemiskinan secara terorganisasi dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan penanggulangan kemiskinan di wilayah mereka misalnya BKM dan UP, Kelompok Kemitraan, UPK, KSM, Forum BKM dan UP dan lain-lain.

BPMPKB Siapkan Dana PNPM Rp 32 Miliyar

SIDOARJO (kabarsidoarjo.com)- Dana searing Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) mandiri perkotaan yang disiapkan pemerintah kabupaten Sidoarjo pada tahun 2011 ini, menurut sekitar 50 % dari angka yang dikucurkan pada tahun 20101 lalu.
jika sebelumnya dana searingnya sekitar Rp 10 milyar, untuk tahun tahun 2011 dana searingnya menurun separuh, yaitu Rp 5 milyar. PNPM Mandiri “Sebenarnya anggaran PNPM yang kita terima baik itu dari APBN,APBD Propinsi dan APBD Kabupaten sebesar Rp 32 Miliyar. namun untuk dana searing APBD Kabupaten, kita hanya mendapatkan anggaran sebesar Rp 5 Miliyar,” terang Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Sidoarjo Dra. Arsiyah
Dijelaskan lebih jauh oleh Arsiyah, bahwa program PNPM ini sudah berjalan lama, dan tiap tahunnya mengalami penurunan. Ini terjadi, karena sebagian desa/kelurahan yang berhasil, tidak lagi mendapatkan program PNPM ini.
“Bagi mereka yang sudah berhasil, sudah dianggap mandiri. Jadi setiap tahun penerimanya menjadi berkurang terus,” tegas Arsiyah.
Hasil evaluasi tahun kemarin, hingga bulan Pebruari 2011 ini ada enam desa/kelurahan yang belum melaksanakan program PNPM Mandari Perkotaan.
Alasannya, karena tempatnya atau lokasinya yang belum memungkinkan, dalam musyawarah lokasinya dialihkan atau diubah, akhirnya menjadi terkendala.
Apalagi kemarin hujan terus-terusan, dan mengganggu kegiatan PNPM di desa.
“Tindakan kami selanjutnya sudah memberikan surat teguran kepada mereka, untuk segera dilakukan dan diselesaikan sampai akhir Maret tahun ini harus sudah selesai, kalau Maret ini tidak selesai, maka dananya akan dikembalikan,” ujar Arsiyah lagi.(Abidin)

DINKES SIDOARJO KURANG SOSIALISASI PROGRAM JAMKESMAS

Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sidoarjo, ternyata program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) tidak sepenuhnya berjalan optimal khususnya pada tahapan sosialisasi dan validasi data yang itu menjadi tugas dari tim pengelola Jamkesmas yang dikomandoi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo.
Fakta ini terlihat dengan adanya beberapa masalah yang terjadi di lapangan dengan banyaknya pengaduan dari masyarakat yang disampaikan kepada DKR Sidoarjo, kurang optimalnya tim dalam melakukan sosialisasi dan validasi data yang berdampak pada proses pelayanan kesehatan yang diterima pasien.
Seperti yang di alami oleh Bpk.Khoir Kecamatan Sedati, dia baru mendapatkan kartu jamkesmas pada bulan Desember 2009 pada saat mengalami sakit, padahal data sudah masuk menjadi peserta Jamkesmas. Seharusnya dia mendapatkan kartu saat melakukan validasi (pada saat program jamkesmas keluar Tahun 2008) bukan pada saat sakit.
Karena kurangnya sosialisasi maka saat pengambilan obat Bpk.Khoir hanya membawa kartu Jamkesmas saja. Ternyata diluar kartu tersebut masih banyak persyaratan yang harus dipenuhi, sehingga saat pengambilan obat di apotik dia kesulitan karena pihak apotik tidak mau memberi obat ketika persyaratan tidak terpenuhi. Misalnya, fotocopy Kartu Keluarga, fotocopy kartu Jamkesmas, fotocopy kartu berobat dari Rumah Sakit tempat dia berobat, fotocopy rujukan dari puskesmas, dan resep dari dokter, dll.
Karena persyaratan yang begitu banyak dan kurangnya pemahaman maka akhirnya Bpk.Khoir memutuskan untuk membeli obat sendiri dengan uang yang diperoleh dari pinjam sana-sini. Seharusnya Dinkes memaksimalkan sosialisasi dan validasi data agar tidak menyulitkan masyarakat miskin yang ingin menggunakan haknya.

Dinkes Sidoarjo Temukan 17 Balita Gizi Buruk

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menemukan 17 bayi di bawa usia lima tahun (balita) menderita gizi buruk. Penemuan tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Tri Ratih Agustina.
‘Sejak 1 Juni lalu memang kita menemukan sebanyak 17 balita yang mengalami gizi buruk. Kami temukan dari beberapa daerah yang terdeteksi melalui Posyandu serta Pusekesmas,’ kata Tri Ratih.
Dia menjelaskan, balita yang dtemukan mengalami gizi buruk itu pertumbuhannya tidak seimbang dengan usia balita yang wajar. Pertumbuhan mereka lambat. Bahkan berat badannya jauh dari berat ideal.
Sedangkan ciri-ciri dan indikasi lainnya, papar Tri Ratih, kepala membesar dan perut buncit. Sedangkan badan terlihat kurus, kering, dan tulangnya kelihatan. Penyebabnya, lantaran tak menerima asupan gizi seimbang.
Meski begitu, kata dia, tidak semua penderita gizi buruk itu berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ada beberapa Balita yang justru berasal dari keluarga yang terbilang mampu memberikan makanan bergizi. ‘Jadi, penyebabnya bisa saja karena pola makan yang kurang teratur,’ jelasnya.

Gizi Buruk membuat 7,3 Juta Anak Indonesia Jadi Pendek

Masalah gizi buruk tidak hanya berhubungan dengan penyakit tetapi juga berdampak pada pertumbuhan tinggi badan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 mencatat 35,7% anak Indonesia tergolong pendek akibat masalah gizi kronis.

Dengan persentase sebesar itu diperkirakan ada 7,3 juta anak Indonesia yang jadi pendek. Banyaknya anak yang mengalami gangguan pertumbuhan tinggi badan merupakan masalah gizi kronis karena berhubungan dengan riwayat gizi pada generasi sebelumnya.

"Tinggi badan berhubungan dengan masalah gizi kronis. Jika satu generasi kurang gizi, dampaknya pada tinggi badan mungkin baru akan dirasakan generasi berikutnya," jelas Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam peringatan hari Gizi Nasional di Kementerian Kesehatan, Selasa (25/1).

Karena merupakan masalah kronis, Menkes mengatakan bahwa pengatasan masalah gizi buruk dan pengaruhnya terhadap tinggi badan harus dilakukan secara komprehensif atau menyeluruh. Di antaranya melalui perbaikan gizi ibu hamil atau antenatal care.

Angka gizi buruk pada balita sendiri mengalami perbaikan, dari 31% pada tahun 1990 menjadi 17,9% pada 2011. Namun menurut Menkes, angka itu belum istimewa karena berarti masih ada 3,7 juta balita yang kurang gizi. Menkes menargetkan, pada tahun 2015 angka itu bisa terus ditekan menjadi 15% saja.

Meski angka gizi buruk tinggi, di sisi lain balita dengan gizi berlebih hampir sama banyak dengan balita gizi buruk yakni 14%. Menariknya, gizi berlebih tidak berhubungan dengan status ekonomi karena persentasenya pada keluarga termiskin adalah 13,7 persen sementara di keluarga terkaya tidak jauh berbeda, yakni 14%.

Masalah gizi lainnya yang sedang dihadapi adalah obesitas yang dialami oleh 15 persen orang dewasa berusia 15 tahun ke atas. Menurut Menkes, obesitas yang berhubungan dengan masalah metabolisme jumlahnya meningkat akibat perubahan gaya hidup dan kondisi lingkungan. 

PERAN PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN SANGAT DIBUTUHKAN

Sampai kapanpun peran serta perempuan dalam pembangunan masih sangat dibutuhkan, karena seorang wanita/ perempuan itu fleksibel dan cepat tanggap dalam segala urusan. Apalagi, dalam urusan pembangunan yang ada kaitannya dengan masalah kesejahteraan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum Tim Penggerak PKK Prov. Jatim, Dra. Hj. Nina Soekarwo yang akrab dipanggil Bude Karwo saat memberikan materi bagi ibu-ibu peserta Ladies Program istri peserta Diklatpim II Angkatan XXIII di Diklat Balongsari Tama Surabaya, Senin ( 25/4).
Bude Karwo mengatakan, seperti dalam RPJMD Prov. Jatim, PKK selalu diiukut sertakan dalam penggodokan atau pembuatan rencana program pembangunan yang ada dalam RPJMD tersebut. Sebab, dalam 10 program pokok PKK itu sudah menyangkut semua masalah yang ada di masyarakat,; mulai dari masalah kemiskinan, kesehatan, gizi buruk/ perbaikan gizi,pendidikan, lingkungan, perekonomian, kekerasan dalam keluarga sampai pada mengurangi kematihan ibu melahirkan dan balita serta perbaikan ekonomi keluarga dengan memberikan bantuan dana hibah dengan Kopwan.
“ Oleh karena itu, sampai kapanpun peran serta wanita/ perempuan dalam pembangunan akan terus dibutuhkan dan sangat dibutuhkan, apapun bentuknya,” jelas Bude Karwo.
Menurut Bude, perempuan dalam kancah pembangunan itu sudah dilaksanakan dan dilakukan dengan jelas program- programnya. Sebagai contoh, setiap bulan PKK selalu membuat program yang dilaksanakan secara rutin dan berkala baik itu di desa mapun di kecamatan sampai di tingkat kabupaten/Kota dan Propinsi. “ Kalau di desa setiap berkala satu bulan sekali diadakan temu kader gizi. Tujuannya adalah untuk melihat dan mengetahui seberapa banyak jumlah anak balita yang ada di desa tersebut, sekaligus dalam pertemuan itu juga diberikan bantuan nutrisi untuk perbaikan gizi balita. Seperti pemberian susu, kacang hijau rebus dan roti mari serial,” terangnya.
Ditambah lagi dengan program- program sosial lainnya, seperti bencana alam yang datangnya tiba- tiba. Otomatis yang namanya PKK bila bekerja tanpa pamrih dan selalu mengguna hati nurani pasti langsung membuat program sukarela dengan menggalang donator untuk memberikan bantuan baik moril maupun sprituil pada yang terkena musibah. Belum lagi, masalah penanganan pendidikan atau masalah buta huruf. Dengan bantuan PKK Jatim yang selalu bekerja keras pantang menyerah, akhirnya Jawa Timur yang tadinya menjadi gudangnya buta huruf di Indonesia saat ini telah berhasil meningkatkan dan menyelesaikan program pendidikan 12 tahun. Padahal, program nasional untuk pendidikan 12 tahun dipatok harus tuntas pada tahun 2015 mendatang dan Jatim telah lewat atau selesai.
Penurunan program kemiskinan, PKK juga ikut andil dalam program pengentasan yaitu dengan program pemberian bantuan dana hibah pada setiap kopwan di setiap desa sebesar Rp 25 juta kepada 8.506 desa se Jatim. Karena dengan adanya bantuan diberikan, diharapkan perekonomian yang ada di desa itu bisa menggeliat dan berputar. Disamping itu juga diberikan bantuan langsung sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui program jalinkesra ( program jalan Lain menuju Kesejahteraan). Terbukti, dengan adanya program diatas jumlah kemiskinan di Jatim terus menurun yakni dari 1.330.696 KK atau 16% turun menjadi 14, 94 % atau sekitar 545 KK atau sekitar 1,05 %. Peran perempuan lewat program PKK juga berhasil menurunkan jumlah angka kematian bayi di Jatim yakni sebesarl 90,7 %, padahal tingkat nasional jumlah angka kematian bayi masih tinggi yaitu sebesar 228 per seratus ribu kelahiran. Sedang angka kematian balita di jatim juga turun yaitu 28,2 per seribu balita dan nasional masih diatasnya yakni 29,8 per seribu balita.
Sebelum mengakhiri materinya, Bude Karwo, minta pada seluruh peserta ladies program hendaknya selalu ikut mendukung program- program pemerintah baik lewat PKK maupun program Dharma wanita. Dengan begitu, kegiatan atau program yang telah dibuat oleh pemerintah bisa selaras dan sejalan dengan program kegiatan yang dibuat baik di PKK maupun Dhrma wanita. Sebab, yang ikut program ladies program adalah istri dari pejabat atau eselon yang ikut membuat kebijakan. Untuk itu, ibu sebagai pendamping suami ya otomatis harus ikut mensupport kegiatan suami.
Sementara itu Kepala Badan Diklat Prov. Jatim, Drs. Syaiful Rahman, MM, MPd mengatakan, ladies program yang diikuti 143 ibu- ibu. Istri peserta Diklat II Angkatan XXIII ini dilaksanakan selama 10 hari mulai tgl 17 s/d 27 April 2011. Dengan tujuan, untuk menambah dan memperluas wawasan peserta ladies program dalam masalah pemerintahan dan pembangunan. Serta untuk melatih kepekaan dan kepedulian terhadao kejadian ang ada di lingkungan sekitarnya.
Sebanyak 143 orang peserta ladies program itu berasal dari seluruh Indonesia antara lain dari Kejaksaan Agung 10 orang, Kementrian Ham 7orang, BPKP 2 orang, BKKBN 1 orang dan Pemprov. Jatim 15 orang, Prov. Kasel 3 orang, Papua 3 orang dan Prov. Riau 1 orang serta 102 orang dari Kab/ Kota se Indonesia.
Sebelum meninggalkan diklat Bude Karwo lebih dulu meninjau Gedung Assesment Diklat Prov. Jatim yang letaknya berada di sebelah samping gedung Induk atau gedung Utama Diklat Prov. Jatim. ( Humas Pemprov. Jatim/ Dilla, Yuli, Asikin).

Benahi Carut Marut Masalah TKI

Untuk membenahi ‘carut marut’ permasalahan TKI, khususnya yang berkaitan dengan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri, Presiden menugaskan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta instansi teknis terkait, guna melakukan evaluasi secara menyeluruh baik dari aspek permasalahannya di dalam negeri maupun di luar negeri.  Arahan tersebut disampaikan Presiden dalam Rapat Kabinet Terbatas (25/4) di Kantor Presiden, sebagai wujud kepedulian Presiden terhadap permasalahan TKI yang dinilai tidak kunjung selesai.
Terkait dari aspek di dalam negeri, Presiden menginstruksikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengkaji seluruh kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang terkait, termasuk mengevaluasi PPTKIS, kegiatan pelatihan bagi TKI, maupun evaluasi terhadap TKI-nya sendiri.  Dalam kesempatan itu, Presiden juga meminta agar PPTKIS yang tidak  atau lalai dalam melaksanakan kewajibannya ditindak atau diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Sedangkan terkait dengan evaluasi terhadap aspek luar negeri, Presiden mengarahkan agar semua MOU yang berkaitan dengan penempatan TKI di luar negeri yang telah ditandatangani dengan negara-negara sahabat seperti antara lain dengan pemerintah Malaysia, Korea Selatan, Jepang, Taiwan , Australia, UEA, Jordania, Qatar, Lebanon dan Syria, agar dikaji kembali.  Pengkajian tersebut perlu dilakukan baik terhadap struktur gaji (insentif), kelayakan dan perlakuan serta perlindungan dari sisi kemanusiaan di negara bersangkutan.  Apabila diperlukan langkah-langkah moratorium pengiriman TKI ke luar negeri dapat dilakukan.
Berkaitan dengan hal ini, Presiden juga menilai perlunya evaluasi secara kualitatif dan kuantitatif terhadap kasus-kasus yang merugikan TKI di negara-negara tujuan, termasuk mengevaluasi kinerja kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negari dalam rangka memberikan perlidungan kepada para TKI.
Presiden mengharapkan agar evaluasi persoalan TKI tersebut dapat dilakukan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi beserta instansi terkait, dalam suatu tim terpadu dan dapat diselesaikan dalam waktu segera.  Sehingga apabila berdasarkan hasil evaluasi dan pengkajian tersebut, Pemerintah memandang perlu mengambil langkah-langkah atau pembenahan, maka langkah atau kebijakan pembenahan tersebut dapat segera dilakukan.
Namun, Presiden mengingatkan agar “success story” yang ada dari penempatan TKI di luar negeri, tidak boleh dinegasikan, dan harus disampaikan secara luas kepada masyarakat. 
Walaupun demikian, Presiden juga berharap, agar dalam jangka panjang lndonesia tidak lagi mengirimkan TKI yang bekerja di sektor informal (rumah tangga).  Untuk itu, pembangunan ekonomi diharapkan dapat meningkat untuk membuka lapangan kerja yang luas bagi rakyat Indonesia.
Berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan, Presiden pada bulan Juni direncanakan akan menghadiri dan berbicara di Sidang ILO.  Pada kesempatan tersebut, Presiden  juga berencana untuk mengajak negara-negara anggota ILO guna lebih memperhatikan perlindungan bagi tenaga kerja migran (lintas negara). (SBP/AK).

Pentingnya Pendidikan berwawasan Lingkungan

Musibah bertubi-tubi melanda negeri ini mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, puting beliung, tanah longsor. Dan, terakhir-terakhir ini di musim penghujan ada daerah-daerah yang menjadi langganan bencana banjir, atau bencana yang lebih besar lagi bagi dunia yaitu adanya pemanasan global yang luar biasa dampaknya bagi bumi kita.

Bencana-bencana di atas tentunya secara langsung atau tidak langsung akan membawa dampak terhadap dunia pendidikan kita. Karena, dengan adanya bencana yang melanda tersebut maka banyak yang menjadi korban pendidikan, mulai dari fasilitas pendidikan dengan rusaknya bangunan sekolah, rusaknya transportasi menuju sekolah, atau terendamnya sarana sekolah lain karena banjir.

Belum lagi dampak psikologis yang dialami oleh anak akibat bencana tersebut. Tentunya kita masih teringat di tayangan televisi bencana tsunami di Aceh atau gempa bumi 27 Mei yang melanda di Yogyakarta bagaimana anak-anak menangis karena kehilangan saudara-saudaranya.

Galery kegiatan